January 23, 2016



[REVIEW] BARONESS PURPLE



baroness-purple



BARONESS

Purple



[Abraxan Hymns]



Untuk alasan tertentu, saya tidak terlalu menikmati album Baroness Yellow & Green, beberapa lagu bagus, tapi kebanyakan lagu lainnya cenderung terasa sedikit membosankan. Ketika mendengar mereka hendak merilis sebuah album baru tahun kemarin, saya tidak terlalu excited, hingga akhir tahun lalu mendengarkan album Purple ini. Mungkin karena tidak memiliki ekspektasi apapun, Purple ternyata mampu mengembalikan excitement saya kepada band Savannah, Georgia ini. Terasa kalau Purple lebih fokus dan berapi-api dalam gaya yang masih Baroness, berisi lagu-lagu yang dipikirkan [direnungkan?] matang, juga kompleks tapi tersaji sebagai aransemen yang enak didengar. Hook-hookgitar yang bagus berpadu dengan melodi vokal John Baizley yang lebih mantap menjadikan album ini menakjubkan.


Ketika baru 2 bulan mereka baru merilis album Yellow & Green, tour bus mereka mengalami kecelakaan yang cukup parah dan masa-masa sulit mereka akhirnya mampu dilewati [termasuk mundurnya drummer Allen Blickle dan bassis Matt Maggioni karena trauma kecelakaan tersebut], dan menginspirasi Purple. Alih-alih runtuh di bawah tekanan akibat sang kecelakaan tersebut, Baroness malah mampu merilis sebuah album yang sangat fokus pada kekuatan karakter mereka dan seakan penuh kemenangan. Tidak menghasilkan pengulangan tapi lebih pantas sebagai sebuah kelahiran kembali.



Produser Dave Fridmann [Mercury Rev, Flaming Lips] berhasil melebarkan sound mereka lebih luas dari sebelumnya, sementara anggota baru bassis Nick Jost dan drummer Sebastian Thompson [eks Trans Am] menambah kedalaman baru dan terasa tangguh. Membuka dengan “Morningstar”, seakan membangunkan kembali para pendengar kepada saga epik yang adalah album Baroness. Simak lirik dalam “Chlorine & Wine” yang bisa jadi track terbaik mereka dalam album ini, “When I called on my nursemaid, come sit by my side. She cuts through my ribcage, and pushes the pills deep in my eyes.”, Jelas lagu ini merupakan inspirasi bagi Baizley semasa harus diopname selama 2.5 minggu di rumah sakit paska kecelakaan, single pertama ini memancarkan rasa sakit dan penderitaan, tapi dieksekusi secara baik dan melodius tanpa terasa suram. “Kerosene” menunjukkan kalau Baroness tidak kehilangan heaviness-nya, sementara “Shock Me” merupakan sebuah indikator bagus akan pergeseran halus Baroness yang menggabungkan synth a la ’80s dengan riff-riff gitar Baizley dan Peter Adams yang meratap dan penuh.



Purple telah menyatu ke dalam estetika yang luar biasa yang hanya akan membuat para fans metal dan non-metal mampu melihat betapa band ini stand out dibandingkan band-band hari ini lainnya.



[arian13]



 





 



FOLLOW US